Wednesday, December 07, 2011

PLAGIAT? TERINSPIRASI? BACA DAN BANDINGKAN SENDIRI








Saya akan ulang lagi kronologisnya, seperti yang pernah saya bagi di Twitter. Tanggal 3 Desember, saya membaca twitter yang ditujukan kepada majalah GADIS, yang mempertanyakan kok rubrik Percikan di GADIS edisi 32 sama ceritanya dengan salah satu cerpen saya di Katakan Cinta dengan Warna (terbit Januari 2010, oleh Gramedia Pustaka Utama). Saya tanya informasi lebih detail lagi via twitter, hingga akhirnya saya putuskan mencari sendiri majalahnya karena tidak ada edisi online-nya.

Begitu membaca, saya kaget karena plot dari rubrik Percikan itu dengan cerpen Aku Benci Mama! Ada kalimat yang sama, plot sama persis, hanya nama dan detail diubah dan cerita diringkas. Saya sertakan rubrik yang dimaksud dan cerpen saya itu. Silakan dibaca dan dibandingkan.

Saya kirim email pada GADIS yang alhamdulillah menanggapi dengan baik, dan setelah berusaha mengontak penulis rubrik Percikan berjudul "Bunda Gaul" itu, penulis yang saya sebut saja bernama M itu menyatakan tidak pernah membaca karya saya itu, itu karya aslinya yang terinspirasi dari ibunya, dan pihak GADIS berkata mereka akan memuat surat dari saya yang menyatakan karya itu plagiat dan sanggahan dari M sebagai penulis “Bunda Gaul”.

Saya pikir kebetulan mungkin saja terjadi, plot yang mirip-mirip juga bisa saja muncul. Tapi dalam kasus ini saya pikir dua cerita ini terlalu serupa.

Saya kutip dua kalimat yang sungguh mirip. Di “Bunda Gaul”:

“Reina benci Bunda. Bukan, bukan benci yang seperti itu.”

Di “Aku Benci Mama” karya saya:

“Sebut saja aku anak durhaka, tapi aku memang benci pada ibuku. Bukan, bukan benci seperti itu.”

Plagiarisme adalah isu yang serius. Plagiarisme merugikan semua pihak. Dari sudut pandang saya, bisa saja pembaca lain mengira “Bunda Gaul” itu karya saya, dan meski saya menerbitkannya di penerbit GPU, saya seolah menggunakan nama pena agar karya itu bisa dimuat lagi di media massa. Dari sisi pihak yang menerbitkan, apabila terbukti plagiat, nama baik mereka bisa tercoreng. Dan tentu saja, dari sisi yang melakukan plagiat, mematikan kreativitasnya dan bisa saja membuatnya berpikir, ah tidak usah susah-susah memikirkan cerita autentik, toh kalau menjiplak masih bisa dimuat dan tidak ketahuan. Dan tentunya masih banyak kerugian lain, baik moril maupun materiil.

Saya paham bahwa dalam proses memperbaiki kualitas tulisan masing-masing, terkadang kita terinspirasi dan menyadur/meniru ide/gaya penulis lain. Dan itu sah-sah saja dilakukan, asalkan tidak diterbitkan ke media mana pun dan juga tidak diaku-aku sebagai karya pribadi.

Saya harap sebagai penulis dan pembaca kita semua saling waspada. Kalau ada karya yang diaku sebagai milik orang lain akan tetapi dirimu pernah membaca/ tahu itu karyamu atau orang yang sama sekali lain, harap diwartakan agar lebih banyak yang mengetahuinya. Semoga dengan demikian para plagiator akan jera.

Tetap berkreasi, dan banggalah dengan karyamu sendiri!

--Primadonna Angela--

Berikut saya sertakan link terkait plagiarisme:

http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme

http://media.kompasiana.com/new-media/2011/01/13/copas-terjemahan-plagiat-dan-copyright/

http://pusathki.uii.ac.id/konsultasi/konsultasi/pelanggaran-hak-cipta-atas-karya-tulis-ilmiah.html

https://www.facebook.com/notes/ambu-dian/copyright-dan-plagiat/10150503393781948











8 comments:

Nathalia Christiani Maloringan said...

Setuju,
brantas para plagiat biar kerja keras penulis ga sia sia

Anonymous said...

catet kak, yang nulis ini punya buku katakan cinta dg warna kakak. dan gak mungkin dia gak pernah baca novel kakak

Angela said...

Terima kasih Nathalia.

Anonim: kamu kenal dengan yang nulis? Dia tidak mengaku menjiplak karyaku tuh. Bohong berarti ya, dia. :(

Software Toko Program Kasir Terbaik said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said...

Sebaiknya mungkin tetap berhati-hati menyebut kata plagiat. Ide itu sifatnya luas sekali.

Kedua cerita ini sebenarnya juga mirip dengan kisah Chelsea Gee dengan ibunya dalam buku 'Just Don't Make a Scene, Mum!' karya Rosie Rushton, meski detail dan dialognya berbeda, namun ide dasarnya serupa.

Semoga saja saudara M yang disebut Mbak Donna memang benar-benar berkata jujur dan tidak berniat menjiplak karya siapa pun.

Kudos!

Sri Wulandari said...

Btw you´ve a great blog!. :)

Come on over and visit me too at :
www.dariwulandari.blogspot.com

monica devi said...

kak, saya punya buku kakak dan saya bandingkan ternyata ceritanya emang mirip banget :( semoga tidak terulang lagi ya kak

Primadonna Angela said...

@anon Ide memang selalu serupa, namun penuturannya kan sungguh berbeda tergantung interpretasi masing2. Di sini, kalau baca sendiri dan membandingkan, akan terasa eksekusinya terlalu mirip dengan cerpenku yang sudah terbit terlebih dahulu. :)

@monica, iya, memang mirip banget. :(

Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!