Sunday, July 24, 2005

Another Comment Regarding Quarter Life Fear

Btw yang udah gw baca itu Quarter Life Fear-nya Primadonna Angela. Ini buku ya, ringan banget buat dibaca, dan lumayan menghibur juga. Walaupun kalo buat jujur mah gw agak kecewa, karena gw suka baca blog yang si pengarangnya kan, dan ternyata gak sebagus tulisan2nya dia selama ini aja. Tapi yaa.. gak bisa gw samain sih, karena si buku ini bahasa Indonesia, dan blognya mostly in English. Buat gw she better writes in English rather than in Indonesian. Kalo dari segi isi, topic ceritanya sangat umum, tapi lumayan banget humor2nya. Dan gw, mau banget punya Ibu kaya yang di bukunya itu hehehe..

Thank You, Mijung!

Thursday, July 21, 2005

Quarter Life Fear by Primadonna Angela

Thx to milis PSTC, yang bikin gw tetep update terus sama buku-buku bagus. Quarter life fear bener2 ringan untuk dibaca, natural banget penulisannya trus menggelitik juga..hi3..pasti senyum2 sendiri deh baca pilihan kata-katanya Donna. Anyway apa yang Belinda (tokoh di buku ini) rasain itu, actually it's inside of us..dan solusi gimana Belinda menghadapinya..really2 inspiring. Penasaran kan? Ayo buruan beli!

Thank You, Katrin!

Wednesday, July 20, 2005

Review of Quarter Life Fear

Judul : Quarter life fear
Pengarang : Primadonna Angela
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I (Juli 2005)
Tebal : 224 hlm.

“Sembilan bulan lebih Mama mengandungmu. Menyusuimu. Mengurus segala macam keperluanmu. Membesarkan dirimu dengan susah payah. Lalu sekarang kamu berkata bahwa kamu takut merepotkan Mama? Oh, anakku, betapa sedikit engkau memahami ibumu, Naaaaak...”Air mata bergelimpangan di mana-mana. Aku sampai harus menghindar agar tidak kecipratan.

”Mama kan pengen ngebantu kamu, Nda. Mbok ya diterima, gitu. Ditolak itu kan nggak enak.”

Alkisah, di kota Bandung hidup seorang gadis gemuk bernama Belinda, yang bekerja di sebuah institusi pendidikan anak. Hidupnya terasa bagaikan tragedi, karena Mama Belinda seorang yang cantik (dan juga eksentrik) sedangkan Papanya seorang pengusaha yang sukses, sementara dirinya sendiri tidak mewarisi keunggulan kedua orang tuanya. Terkadang ia takut dirinya ternyata anak adopsi. Terkadang ia malah sebaliknya bersyukur kalau-kalau dirinya benar-benar anak adopsi, agar ia bebas dari tekanan untuk menyamai orang tuanya.

Belinda juga memiliki seorang sahabat sekaligus tetangga bernama Ine. Dengan Ine sejak bayi hingga memasuki dunia kerja Belinda selalu berbagi suka duka hidup. Mereka bahkan memiliki selimut persaudaraan, pertanda bahwa hubungan mereka sangat dekat. Begitu dekat, sampai-sampai dengan santainya Ine tega berkata, “Lu tuh gak gendut-gendut amat. Seperti kata Garfield kan, bukannya overweight, tapi undertall.”

Yah, begitulah. Belinda memang tidak punya kecantikan, kecerdasan, dan kepribadian ala Miss Universe. Sedangkan, Ine, seperti Mama Belinda, berparas cantik, selalu jadi juara umum di sekolah, penampilannya trendy, gampang gonta-ganti pacar, dan karirnya jauh lebih moncer. (Jadinya Ine juga lebih mampu shopping.) Satu lagi, mereka berdua entah bagaimana dapat tetap langsing tanpa peduli apa yang mereka telan sementara Belinda harus mati-matian diet agar bisa langsing.

Tidak pernah bisa menjadi seperti Mama dan Ine, Belinda menjadi terobsesi pada mereka berdua. Sekarang Belinda sudah 25 tahun, karirnya mentok sebagai pengajar paruh waktu, dan belum punya pendamping hidup. Dunia yang kejam tampaknya enggan memberikan excuse dan waktu lagi pada Belinda dan segala kekurangannya. Belinda merasa tak berdaya, dan sebagai akibatnya, pada suatu pagi seorang dokter memvonis Belinda:
“Anak ibu kena penyakit quarter life fear. Ia tidak mau ulang tahunnya dirayakan.”
Mungkinkah Belinda meraih apa yang diinginkannya dalam hidup ini? Baca sendiri novel karya ibu satu anak ini dan bersiap-siaplah untuk plot yang, meminjam istilah Pak Arswendo, meledak dengan lembut.

Quarter Life Fear, bukan saja sebuah novel komedi yang menghibur tapi juga sekaligus mengobati jiwa dalam suatu masyarakat yang kecanduan gengsi, adu pamer dalam segala situasi dan kondisi. Jika dari buku Lifestyle David Chaney, dapat disimpulkan bahwa masyarakat sekarang adalah potret masyarakat pesolek, masyarakat yang berprinsip "aku bergaya maka aku ada maka dari buku ini pesan pengarangnya kebalikannya: Seperti Belinda, setiap orang, saya yakin, berhak untuk berbahagia dengan jalannya sendiri. Wah, saya merasa dikuatkan di hati setelah membaca novel ini. Semoga saja saya juga punya ‘quarter life luck’ seperti Belinda.

Thanks to Resensi Buku!

Saturday, July 16, 2005

UPDATE!

MUST ROWLING KILL EVERYBODY?!

I still think the fourth book is the best so far. The sixth book is the worst I've read! Nothing really new. Nothing really exciting. Doom. Gloom. Boom. Conspiracy. Plenty of snoggings. And where the heck is Voldemort? It is as if Rowling fears her own creation.

I guess I was hoping too much...

Harry Potter and the Half-Blood Prince

I can't wait to read it. I simply can't. I'm fondling the book even as I'm writing this, savoring the smell of the newness. The cover beckons me to devour the content instantly. How satisfying that would be!

But I know I shouldn't read it. Not now! This book only consists of 600-something pages. While reading The Goblet of Fire, which is thicker, by the way, it took me only three solid hours. I want to prolong the sensation. There's no rush. With luck, maybe I'll be able to finish it in a week. OK, let's be realistic. Four days. Maybe three.

Yet there's a nagging feeling inside. Something is telling me that most likely the book will be finished some time today...

Thursday, July 14, 2005

On Writing Quarter Life Fear

I never thought that I'd be able to write a novel. A book consisted of numerous poems, yes, probably. I have written hundreds--probably thousands--of poems, anyway. That shouldn't be hard. Or maybe the book will feature my short stories. That's not unthinkable. Maybe it will contain a few novellas of mine? Hmm, it's probable.

But a novel... wow. Wait a minute. Let me catch my breath. I have devoured (read, that is, not eat... well, in case you're wondering!) thousands of novels--maybe more (who keeps count, anyway?). Reading is easy. But writing that much? Could I do that? Nah, I told myself. Better stick to writing things that I'm comfortable with--like poems and short stories.

I kept finding excuses, like, I had no time, I was too tired to do it, etc. The truth is, I was afraid. What if I made a fool of myself? Thinking that I was capable of writing a novel--and publishing it, when in fact I was just somebody who thought too highly of oneself? What if the publishers rejected my manuscript? What if people thought I wasn't good enough? That I was just a silly wench with wild, crazy ideas?

Then I stumbled into one profound truth. How would I know, before trying to do it first? So I did. And surprise oh surprise, I was able to write a novel. And publish it! Granted, the process wasn't easy. Far from it. Yet it wasn't as difficult as I thought it would be.

So you see... Quarter Life Fear is a novel born out of fear... but also love. And I hope the readers will love the book. I sincerely hope they'll be able to manage their fear--turning it into something powerful and magnificent. Everyone has the ability to do that, I believe so.

Wednesday, July 06, 2005


Metropop: Quarter Life Fear

Primadonna Angela, novel dewasa karya asli, GM 401 05 011, ISBN
979-22-1473-9, 224hlm, 13,5x20cm, ikanova, Rp 30.000

Bagi Belinda, ulang tahun itu mengerikan. Apalagi ulang tahunnya yang ke-25.
Di saat orang lain merasa sukses dengan pekerjaan yang menjanjikan, memiliki
pasangan, punya tujuan hidup yang jelas, Belinda malah merasa tidak punya
apa-apa. Singkatnya, a loser. Tapi saat Jay, mantan kekasihnya, kembali
dalam kehidupan Belinda, Belinda belajar bahwa ia harus berani menghadapi
dunia-termasuk semua ketakutannya.

"...Penulis satu ini justru berangkat dari isu ketidakcantikan, yang terbukti
bisa melahirkan novel Quarter Life Fear. Bukan dongeng yang ber-setting
istana megah, memang, melainkan 'istana kecil' yang ada di keseharian
seorang Belinda. Keseharian kita juga, tentunya."
Jujur Prananto, scriptwriter, Jakarta, Indonesia

"Saya ikut menangis, tertawa, gundah, dan kuat bersama Belinda. Penulis
benar-benar membawa saya ke dalam kamar Belinda, ke dunianya, dan bertemu
semua tokoh dalam buku ini. Ending-nya mengejutkan. Sebagai ibu, saya ingin
bisa seperti mamanya Belinda."
Yureana Wijayanti, Dosen, Yogyakarta, Indonesia

More blurbs:

"Tanyakanlah pada seorang juru dongeng tentang kecantikan. Maka akan berceritalah ia tentang rambut terurai panjang, badan tinggi semampai, kulit langsat dan tentu saja wajah yang cantik. Lalu coba tanyakan padanya tentang ketidak-cantikan. Si juru dongeng akan terdiam, sebab sesuatu yang tidak cantik rupanya tak memberinya inspirasi bagi lahirnya sebuah dongeng. Namun juru dongeng ini pastilah bukan Primadonna Angela. Sebab penulis satu ini justru berangkat dari isyu ketidak-cantikan, yang terbukti bisa melahirkan novel Quarter Life Fear. Bukan dongeng yang ber-setting istana megah, memang, melainkan "istana kecil" yang ada di keseharian seorang Belinda. Keseharian kita juga, tentunya."
Jujur Prananto, scriptwriter, Jakarta, Indonesia

"Buy her book, she's really cute."
Michael Petrosino, musician/self-proclaimed sex idol, Brooklyn, NY, USA

"Addictively enchanting. I want her mom!"
Alexander Christian, Not-your-average-chicklit reader, Bogor-Jakarta, Indonesia

"...quite interesting! Terutama karakter mama yang sangat dramatis dan kemungkinan besar adalah personifikasi diri mbak Donna di masa yang akan datang (hahaha)..."
Lucky Palupi, Researcher, Jakarta, Indonesia

"Ringan dan gampang dicerna, seperti baca komik bergambar. Penyampaian cerita sangat lucu lengkap dengan pernak pernik pendukung, apalagi soal makanan, buat jadi lapar. Btw, nampannya pasti besar banget."
Nengti Arda Rasjid-Borkhataria, Homemaker and Mom-to-be, Den Haag, Holland

"Beautiful. Didukung dengan plot twist yang memukau, menjadi bacaan yang ringan tetapi penuh dengan permainan 'perasaan'. Quarter Life Fear ini sangat menghibur dan mampu menjejali pembacanya dengan ide-ide brilian yang dapat diterapkan -instant- dalam kehidupan sehari-hari."
Andi 'Julian' Saptono, , Internet Usability Expert (Pakar Kebergunaan Internet), Pittsburgh, USA

"Baca karya Donna seperti pijat refleksi. Biar alis berkerut dan bibir monyong saat bagian yang memijat emosi, gak mau berhenti. Setelah buku ditutup dan ditaruh pun, perasaan ringannya terus terbawa. Jarang-jarang saya baca novel pop yang memiliki struktur tiga babak dan timing komedi yang pas. Kalau dijadikan film, siapapun yang jadi penulis skrip bisa leha-leha."
isman hidayat suryaman, penulis buku humor Bertanya atau Mati!

"Here we are following the journey of Belinda, entertained by addictive, funny and witty writing that captures the reality of many women during their soul searching days...Lucky Belinda, she found the Power within herself...There is something to say about a book that makes you read during work hours...;)"
Alissa Jean Tuschall, Human Resources, Palo Alto, California, USA

"Refreshingly witty and so easy to read."
Jessy Dewi Sweeney, Homemaker, Port Coquitlam, British Columbia, Canada

"Sungguh menarik untuk dibaca oleh seorang wanita yang berusia jauh di atas usia Belinda. Cerita ini membawa kita pada kenangan jaman muda, dimana pikiran Belinda yang nakal dan spontan seakan menterjemahkan pikiran kita. Hal yang patut dicatat adalah dibalik ketidaksetujuannya kepada perlakuan ibunya, hubungan antara Belinda dan ibunya sangat menggambarkan kasih sayang yang mendalam di antara keduanya. Membangkitkan keingin tahuan kita untuk cepat-cepat mengetahui akhir ceritanya, sehingga tidak ingin berhenti sebelum cerita berakhir. Sukses untuk penulis berbakat ini."
Etty Sambodo, Ibu dari 3 remaja & guru Bahasa Inggris dan Komputer, Depok-Jakarta, Indonesia


"Saya ikut menangis, tertawa, gundah dan kuat bersama Belinda. Penulis benar-benar membawa saya ke dalam kamar Belinda, ke dunianya dan bertemu semua tokoh dalam buku ini. Ending-nya mengejutkan.Sebagai seorang ibu, saya ingin bisa seperti mamanya Belinda. Si kembar adik perempuan saya yang baru mulai kuliah harus membaca buku ini."
Yureana Wijayanti, Dosen, Yogyakarta, Indonesia

 Posted by Picasa

Tuesday, July 05, 2005

On Completing One Project

I'm the type that is always happy to start a new project but in the process will lack the energy to finish it. So it's a great wonder (especially to yours truly!) that I was able to finish writing Quarter Life Fear.

Now I have many would-be books to finish, and my vice starts emerging. I want to make a new story! A totally different book!

The joys and happiness for having too many ideas, I suppose.

I'll try to end my book in near future. That way maybe I wouldn't feel that guilty when I want to weave new stories.

Sunday, July 03, 2005

KETENTUAN LOMBA METROPOP Be a Writer!

1. Lomba terbuka untuk semua WNI berusia 18 tahun ke atas.
2. Tema cerita bebas dan harus berkaitan dengan kehidupan metropolitan, tidak bertentangan dengan SARA, dan tidak mengandung unsur pornografi.
3. Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan atau saduran.
4. Naskah belum pernah dipublikasikan di media massa cetak maupun elektronik, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
5. Panjang naskah 150-250 halaman A4, 1,5 spasi, 12 pt, font Times New Roman. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
6. Kirimkan naskah (print out & disket/CD), sinopsis cerita, biodata & foto, serta fotokopi tanda pengenal beserta (KTP/identitas lain) ke:

Panitia METROPOP Be a Writer!
Redaksi Fiksi PT Gramedia Pustaka Utama
Jalan Palmerah Barat 33-37 Lt. 3
Jakarta 10270
Cantumkan METROPOP Be a Writer! di pojok kiri atas amplop.

7. Naskah kami tunggu selambat-lambatnya 1 Desember 2005.
8. Sertakan struk/bon pembelian novel METROPOP terbitan Gramedia Pustaka Utama.

CATATAN:
- Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
- Semua naskah yang masuk menjadi milik panitia.
- Pemenang akan diumumkan di harian KOMPAS.
- Lomba ini tidak berlaku bagi karyawan PT Gramedia Pustaka Utama dan keluarganya.
- Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat serta tidak diadakan surat-menyurat.

MENANGKAN HADIAH SEBAGAI BERIKUT:
1. Juara 1: Rp. 7.000.000 + trofi + sertifikat + hadiah lainnya
2. Juara 2: Rp. 5.000.000 + trofi + sertifikat + hadiah lainnya
3. Juara 3: Rp. 3.000.000 + trofi + sertifikat + hadiah lainnya
Bagi Juara dan Pemenang Berbakat, novel Anda juga akan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama!

Buku-buku METROPOP yang sudah terbit:
* Seri Lajang Kota (Alberthiene Indah)
Jodoh Monica
Cewek Matre
Dicintai Jo

* Seri Indiana Chronicles (Clara Ng)
Blues
Lipstick
Bridesmaid


* Quarter Life Fear (Primadonna Angela)

* Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion (Syahmedi Dean)

* Jakarta Paris via French Kiss (Syahmedi Dean)

* Jakarta Kafe (Tatyana)

* Single Mom's Day Out (Tatyana)

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi kami di: Telp. (021) 536 77 834 ext. 3213, 3249, atau 3217.

Interested in becoming a writer? Why not join this competition! Details will follow! Posted by Picasa
Match Up
Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!